Ketika ada yang bertanya apa motivasi saya menulis, setidaknya saya punya 3 motivasi . Pertama, karena saya cinta. Jika sudah cinta maka melakukannya pun akan terasa mudah. Kedua, karena sebagai bentuk aktualisasi diri. Saya tidak ingin dikenal sebagai penjahat. Tapi saya ingin dikenal sebagai penulis. Ketiga, dengan menulis saya bisa menghidup anak dan istri saya, dan ini harta yang halal lho. Begitulah penuturan Salman Iskandar, penulis dan editor buku. Sosoknya sederhana. Beliau mengaku, hartanya yang paling banyak adalah buku. Syarat utama untuk jadi penulis adalah dia harus predator buku, suka “melahap” buku.
Lain halnya dengan Ustadz Felix Siauw, bagi beliau menulis adalah investasi dakwah setelah mati. Ketika seorang penulis sudah mati, insya Allah karyanya tetap abadi, tetap dibaca bahkan diamalkan. Inilah yang kemudian bisa disebut sebagai investasi dakwah setelah mati. Kita bisa melihat para ulama-ulama yang sebenarnya sudah mendahului kita tapi karyanya masih tetap bisa kita baca, dijadikan rujukan dalam mencari kebenaran. Bayangkan jika ulama sekaliber syeikh taqiyuddin an nabhani jika semasa hidupnya beliau tidak menuliskan pemikiran-pemikirannya, mungkin kita tidak pernah mengenal pemikiran-pemikiran mustanirnya yang mampu membangkitkan umat.
Saya pribadi, menulis karena mudah lupa. Lho kok begitu? Maklum sudah ibu-ibu jadi banyak yang dipikirkan. Jadi apa-apa yang dianggap penting harus ditulis agar tidak menguap begitu saja. Target terdekat saya adalah mempunya web sendiri yakni ummudzakiy.com. ingin sekali menuliskan kisah-kisah saya selama membersamai anak. Saya upload di web saya. Tujuannya apa? Bukan karena ingin terkenal, tapi saya ingin agar kelak bisa dibaca oleh anak-anak saya.mereka akan tahu betapa saya menyayangi mereka dan bagaimana mereka dulu dibesarkan.
Sebagai seorang ibu (muda?) yang memutuskan untuk berkarier sebagai ibu rumah tangga, akan tetapi saya merasa bahwa menjadi ibu rumah tangga bukanlah alasan untuk berhenti belajar apalagi berhenti memikirkan umat karena disibukkan mengurus anak dan pekerjaan rumah yang (kalau dituruti) tak ada habisnya. Maka saya tetap hobi membaca, terutama membaca berita. Dari berita-berita yang lagi trending topic tersebut saya jadikan sebagai bahan untuk membuat artikel ataupun surat pembaca untuk di kirim ke media massa. Kenapa saya memilih menulis artikel atau surat pembaca? karena menurut saya jenis karya ilmiah populer ini cukup mencerdaskan. Bagaimana tidak?selain harus mengetahui fakta dari suatu kejadian, juga harus menganalisanya, lebih jauh lagi juga memberikan solusi, tentu saja solusi yang sesuai dengan islam. Setiap melihat fakta atau masalah yang terjadi di masyarakat saya merasa harus menuliskannya. Mengabarkan faktanya, menganalisa, dan memberika solusi sesuai islam atas fakta/masalah yang sedang terjadi. Menyenangkan, bukan? Menjadi nilai lebih tersendiri ketika tulisan kita di muat di media massa. Memang saya lebih banyak di rumah, tapi tulisan saya bisa dibaca oleh masyrakat banyak. Asyik apa asyik?
Terlepas dari apa sebenarnya motivasi kita menulis, entah karena mudah lupa, karena suka, aktualisasi dari, atau bahkan sebagai investasi dakwah setelah mati, ada sebuah qoute menarik dari profesor Fahmi Amhar. Kualitas seorang penulis bukan dilihat dari berapa tebal atau berapa banyak buku hasil karyanya, tetapi seberapa benar isinya, seberapa besar manfaat yang didapat pembacanya, dan seberapa banyak orang yang dapat digerakkan untuk memperbaiki diri dan lingkungannya setelah membaca buku itu. Jadi, apa motivasi teman-teman menulis dan tulisan seperti apa yang ingin dihasilkan?
Hana Ummu Dzakiy

0 komentar:
Posting Komentar